Cerita Tuan Puan Soal Rasa

Tuan, mari melangitkan rindu Diatas kepasrahan yang mendekati pilu Yang dikumpulkan bersama rindu lain yang melanglang buana di angkasa Puan, akankah rindu akan saling bertemu Diantara titik nadir dan detak yang saling bertalu? akankah kita bersua di ramainya rasa yang mengelilingi jiwa? Mungkin aku akan hilang langkah nanti Atau mungkin aku tak akan kembali Tuan,…

Iklan

Mencari Singgahan

Kepada Wicahya yang sudah tidak ada di depan mata, tetaplah baik-baik saja, meski ditinggal pergi selalu meninggalkan luka. Setidaknya kita pernah ada di posisi yang sama, aku ditinggal pergi karena kau memilih kembali, dan kau ditinggal pergi karena kau bukan orang yang dipilih. Jangan lupa, aku sudah merasakannya sebagai yang pertama, kini kau gilirannya. Tapi,…

Hujan

Hujan mungkin mampu menghapus jejak langkah kaki kita yang pernah pergi berkelana berdua. Tapi di saat yang sama, kenang akan menggenang disudut amigdala. Sesuatu yang percuma jika aku memaksa untuk lupa, Karena pada hakikatnya kau pernah ada disudut ruang paling penting bersama rahasia-rahasia lainnya. Menjelma menjadi sesuatu yang hingga kini masihlah ada, sebagai pelajaran berharga…

Terbenam

Pena lagi-lagi menari dengan kata, membawaku berkelana, ke masa-masa dimana kita masihlah ada. Tapi, air mata jatuh disaat yang sama, karena kenang mengusik amigdala. Rasa dikoyak hingga rusak, aku terisak, dada sudah lelah berdetak. Kaki ingin menghentak, melawan ketidakberdayaan hanya karena kepingan ingatan. Hingga aku pasrah, lalu tenggelam tanpa sempat mampu menggapai permukaan, kemudian terombang-ambing…

Hak

Aku berhak menjaga hati agar tidak terluka lagi. Selayaknya juga kamu yang berhak berjuang untuk mendapatkanku lagi. Tidak ada yang salah. Tapi kali ini, aku menolak untuk patah, aku tidak ingin pasrah, aku tidak ingin menyerah. Suatu kesalahan jika kali ini aku menaruh perasaan, apalagi setelah dicampakkan. Aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang selalu…