Menaruh Peduli

Katanya pengalaman adalah guru kehidupan, karena dia mengajarkan banyak hal yang tidak guru ajarkan di sekolahan formal.

Tapi, segalanya tidak melulu soal pengalaman, pelajaran bisa didapat dari hasil pengamatan dan buah pemikiran. Hanya saja, bersediakah kamu untuk menjadi seorang pengamat dan pemikir?

Kian hari, kian bertambahnya umur, hal-hal yang kita hadapi adalah permasalahan yang semakin kompleks, tidak melulu “Kemana akan pergi setelah ini?” “Bagaimana cara merampungkan tugas kampus” selayaknya kita saat dulu, tapi perihal “Bagaimana masa depan kita nanti?” “Bagaimana bertahan di tengah-tengah kehidupan yang semakin keras?” dan pertanyaan lainnya.

Permasalahan ini menuntut kita untuk mencari solusi, karena jika tidak, kita yang akan terkena seleksi. Pencarian solusi ini menjadi prioritas utama pikiran kita, tanpa disadari. Hingga ada hal-hal lain yang melintas di pikiran kita juga di hadapan kita yang kita lewati dengan rasa tidak peduli, dan juga keengganan untuk ingin mengetahui.

Terkadang, karena kita terbiasa untuk tidak peduli, kita malah menutup hati, enggan merasakan simpati juga empati, sesuatu yang sebenarnya menjadi salah satu keistimewaan kita sebagai manusia dibanding makhluk lainnya selain pikiran tentunya¬.

Ego manusia memang tinggi, peduli pada diri sendiri menduduki posisi tertinggi, peduli kepada orang lain ataupun makhluk lain menjadi yang dinomor duakan. Itu sifat manusia, meski tidak semuanya seperti yang dikata. Tapi, alangkah baiknya kita mampu memposisikan diri, peduli kepada diri sendiri juga peduli pada orang lain sesuai tempatnya.

Part I

Iklan

Badai

Malam semakin jatuh ke dasar cakrawala, nyanyian serangga bergema di setiap sudut kesepian. Aku masih membuka mata, berharap mampu terlelap dalam ramainya kecamuk amigdala.

Ingatanku kembali pada ucapannya senja tadi, “ada beberapa hal yang gak bisa diungkap dengan lisan, tapi ada banyak hal yang mampu dijelaskan dengan tulisan”

Aku terjaga dengan benak penuh tanya, apa isi surat yang tadi aku terima? Bisakah aku menarik ucapanku untuk tidak membukanya hingga dia tiba di tempat terjauhnya?

Masih belasan jam untuk aku mampu membuka suratnya.

Hingga aku tiba pada titik akhir penantian, aku membuka dengan pelan, takut-takut merusak tiap lipatan, atau jangan-jangan aku takut merusak perasaan. Entah.

Kini, aku mendapati tulisannya yang tercatat rapih “Ada yang mesti kita lepaskan, hanya agar kita mampu mendapatkan. Ada yang menemukan tapi di saat yang sama juga harus kehilangan. Untuk sementara, aku hanya ingin berfokus pada kesembuhanku. Karena aku sadar, penyakitku tidak akan membuatmu bahagia. Aku butuh pulih untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Butuh baik-baik saja untuk melalui tahun-tahun yang akan datang, yang akan kita lalui dengan tradisi seperti biasa-duduk di padang rumput saat malam tahun baru dengan mengungkap permintaan. Aku pergi, tetap jaga diri, ingat saja, aku akan kembali untuk menjemput kamu pergi. A”

Air mata jatuh di pipi, mengalir deras tanpa tepi. Kini, aku hanya mampu mengerti, perihal surat yang sedari kemarin aku ratapi.

Kamu pergi, dan aku hanya perlu menanti.
Kini pemeran utama, bukan lagi kita, melainkan jarak dan waktu yang kini berkuasa sepenuhnya.

Pada akhirnya, ini perihal mempertahankan di tengah badai terpaan.

Kau Tanya, Aku Jawab

Kau bertanya pada semesta, mengapa harus terlelap kembali hanya demi mengejar mimpi sialan itu?

Bagiku ini sederhana, kau maya dan nyata di saat yang sama. Sosokmu di dunia adalah nyata adanya, tapi hadirmu di depan mata tak lebih dari suatu foto di dunia maya.

Temu hanyalah ketidakpastian yang nyata, mencipta rindu menjadi tumpukan-tumpukan debu pada sudut-sudut pintu, mengharapkan yang dituju akan mengetuk pintu, untuk kemudian membuka lembaran baru.

Tapi temu telah menjadi sesuatu yang semu.

Maka, ketika ketidakpastian menjadi satu-satunya yang pasti, aku memilih terlelap, berpetualang di alam mimpi, mencarimu kesana kemari. Karena aku tau, bagimu, aku di alam nyata, tak akan pernah ada, bahkan sekedar nama.

Jadi saat temu menyapa kita di alam bawah sadar, aku memilih untuk mengejar, hingga terengah-engah.

Aku rela menghabiskan waktu di alam mimpi asal tak sendiri, asal kamu ada disisi. Aku rela menjadi putri tidur yang setiap mimpinya penuh dengan hadirmu.

Aku rela menjelma tanda tanya pada akhir kata, dengan engkau yang menjadi titik pada akhirnya.

Abadi (2)

Beberapa buku, tapi banyak cerita

Pikiran selalu dipenuhi hal-hal baru

ingatan-ingatan lama tertumpuk dibawahnya

semakin lama, semakin bawah, hingga akhirnya ingatan menyerah

ditelan oleh ketidakabadian

Menulis adalah mengabadikan suatu kejadian

menyimpan rapat-rapat agar bisa kembali diingat

Kamu mungkin pergi

mungkin hilang diantara sepi

tapi kamu akan tetap abadi

dalam tulisan yang aku tata sedemikian rapi

Kau abadi

menjelma kata-kata yang tak bertepi

menjelma kenang yang menetap di memori

Kau akan tetap ada,

walau kau telah tiada

diantara semesta dan juga jagat raya

atiyah